kepribadian

kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa sesungguhnya diri kita ini?”

Enneagram
Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, ada satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui kepribadian yaitu menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram, terbagi menjadi 9 tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti.

Sembilan Tipe Kepribadian Manusia
Kesembilan tipe kepribadian tersebut adalah :
Tipe 1 perfeksionis
Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.
Tipe 2 penolong
Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.
Tipe 3 pengejar prestasi
Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.
Tipe 4 romantis
Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.
Tipe 5 pengamat
Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.
Tipe 6 pencemas
Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.
Tipe 7 petualang
Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.
Tipe 8 pejuang
Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.
Tipe 9 pendamai
Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.

Panah dan Sayap
panah dan sayap dalam enneagram Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya.
Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak.

Tipe-tipe Enneagram dan Myers-Briggs Type Indicator
Bagian akhir buku Enneagram ini berisi penjelasan tentang tipe-tipe kepribadian yang sudah diakui, yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan kecocokannya dengan tipe-tipe dalam enneagram. MBTI sendiri adalah suatu inventori kepribadian yang berlandaskan pemikiran dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Inventori ini mengukur kecenderungan individu berdasarkan empat skala : ekstraversion atau introversion, sensing atau intuition, thinking atau feeling, serta judging atau perceiving. Terakhir, terdapat tabel hubungan antara sistem dalam enneagram dan MBTI.

Komentar
Ada beberapa hal yang membuat buku ini menjadi menarik untuk dibaca, seperti :
1. Buku berjudul The Enneagram Made Easy terbitan Harper San Fransisco ini, diterjemahkan dengan cukup baik sehingga tidak menyulitkan pembaca dalam memahami isinya. Walau kadang masih terdapat kesalahan dalam pengetikannya.
2. Banyak sekali ilustrasi menarik, baik penjelasan masing-masing tipe maupun perbandingan antara satu tipe dengan tipe lainnya. Tak jarang ilustrasi tersebut berisi lelucon yang mampu menciptakan suasana menyenangkan ketika membaca buku ini.
ilustrasi Enneagram
3. Di awal penjelasan tipe, ada 20 butir pernyataan yang menggambarkan tipe kepribadian tersebut. Pembaca dapat memberi ceklis pada karakteristik yang menggambarkan kepribadiannya. Pernyataan ini dapat membantu pembaca untuk menemukan tipe kepribadiannya dalam enneagram.
4. Penjelasan masing-masing tipe juga cukup banyak ragamnya, mulai dari karakter positif dan negatif tiap tipe, cara bergaul, komentar orang-orang sekitar, hingga saran dan latihan yang tepat untuk tiap tipe.

Namun, ada beberapa hal yang kurang dari buku ini, seperti :
1. Tidak jelas apakah kedua puluh pernyataan yang ada di tiap tipe, didapat menggunakan metode penyusunan alat tes yang baik, sehingga memang benar-benar mampu menggambarkan tiap tipe dengan tepat.
2. Penjelasan tentang tiga pusat dalam tubuh; jantung, perut dan kepala, dirasa kurang memadai, sehingga tidak terlalu memberikan pemahaman yang lebih terhadap kepribadian manusia.
3. Perbandingan antara tipe-tipe dalam enneagram dengan tipe-tipe jungian (MBTI) dirasa agak janggal. Ada kesan bahwa tipe-tipe jungian memang ‘ditempel’ agar pembaca semakin percaya dengan tipe-tipe dalam enneagram, sebab tipe-tipe jungian sudah ada, digunakan dan diakui secara luas sejak lama.
4. Tabel perbandingan sistem dalam enneagram dan MBTI tidak disertai penjelasan, sehingga menyulitkan pembaca untuk memahami arti tabel tersebut.
5. Sampul buku asli The Ennegram Made Easy lebih menarik untuk dilihat daripada sampul buku versi indonesia yang terlalu ‘gelap’.

Kesimpulan dari saya, buku ini cocok bagi pembaca yang ingin mengenali kepribadiannya, namun tidak ingin membaca buku psikologi tentang teori kepribadian. Sebab sesuai dengan slogannya, buku ini memang bisa membantu mengenali kepribadian kita dengan cara yang lebih asyik.

Iklan

budaya

Teater Indonesia Harus Menciptakan Tradisinya Sendiri

”Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Setelah Stanislavsky, tumbuh teater baru yang mementingkan sutradara,” begitu kata Asrul Sani ketika saya mewawancarainya dalam satu kesempatan di pertengahan tahun 2000 lalu. Dikatakannya pula, ”Di Eropa, orang sudah enggak perlu surealisme lagi. Sudah jenuh. Mereka mencari bentuk yang lain. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.”
Sungguh, hal itu terngiang lagi di kesadaranku, karena ternyata permasalahan lama itu muncul kembali, diujarkan dengan bahasa yang lain oleh Harris Priadie Bah dalam diskusi teater yang diadakan oleh meja budaya hari Jumat tanggal 18 Juli 2003 lalu di PDS. HB. Jassin. Dengan bahasanya, Harris menyatakan bahwa teater modern Indonesia merupakan teater yang didirikan dengan tradisi pemusatan kuasa pada corak badan dan pikiran sang sutradara.
Memang bukan tema baru. Tapi harus diakui juga, permasalahan itu bukannya telah selesai sekarang. Ada satu hal penting mengapa itu sampai terjadi. Menurut Harris, yaitu adanya paradigma paternalistik, di mana itu memunculkan pemusatan wacana teater pada sosok tunggal sutradara.
Tapi sayangnya, diskusi sore itu tidak terlalu jauh mengurai untuk mencari sebab dari kegelisahan yang dilemparkan Harris. Terlebih dengan waktu yang dibatasi justru oleh moderator.
Tanpa paparan yang lebih jauh tentang sebab-sebab itu, Harris lalu menawarkan sebuah ajakan untuk mendevitalisasi paradigma paternalistik dengan sebuah paradigma pempribadian, di mana tradisi kerja kolektif dalam teater harus dimaknai sebagai fasilitas bersama untuk terberdirikannya proses emansipasi lintas pribadi.
Sebuah ajakan yang tidak mendasar buat saya, sebab, tanpa adanya paradigma pempribadian itu pun, sebuah kerja teater memang sebuah kerja kolektif. Sebuah keloktivitas tentu mensyaratkan adanya kesetaraan dengan menghargai dan menjalankan tanggung-jawab posisinya masing-masing. Seorang sutradara atau pemain, pasti mempunyai sebuah wilayah yang tidak bisa diganggu-gugat oleh pihak di luar dirinya. Suatu wilayah ”otonomi diri”, di mana dia menjadi penguasa akan kediriannya dan memahami seluruh bahasa dirinya ketika dia harus memilih kerjanya dalam proses kreatif teater. Hal ini juga untuk menjawab kegelisahan Nur Zein Hae yang melihat pemain masih sebagai subordinat dalam produksi teater.
Pun, saat Nur Zein menawarkan solusi bahwa teater modern Indonesia harus menengok ke teater tradisi, dengan asumsi bahwa dalam teater tradisi, sutradara hanya berperan dalam mengatur plot cerita dan pola pengadeganan (mise en scene). Selebihnya pemain yang berperan. Tapi Nur Zein lupa, bahwa antara teater modern dan teater tradisi memiliki pola dan syarat yang saling berlainan.
Teater tradisi hidup dan dihidupi orang-orang yang lebih homogen dan memiliki semangat lokalitas yang tinggi. Mereka mempunyai hubungan yang intens, baik dalam proses kreatif maupun dalam hubungan sosial. Ada semangat kekerabatan yang berusaha selalu mereka tumbuhkan. Kesenian adalah sesuatu yang coba mereka pertahankan sebagai simbol komunal wilayah hidup.
Sedangkan teater modern adalah hasil pembelajaran dari tradisi barat, yang kemudian disikapi sebagai ilmu. Kalaupun toh kemudian ada yang memilih teater sebagai jalan, yang muncul kemudian adalah teater yang hidup dengan semangat memperbaharui yang terus-menerus dengan segala pencarian bentuk kreatifnya sebagai bahasa visual. Tradisi cuma sekadar aksesori, bahkan terkadang sampai melawan tradisi. Itu pilihan. Jadi sangat aneh, kalau kita harus merujuk ke teater tradisi untuk menjawab permasalahan teater modern seperti yang ditawarkan Nur Zein.
Pada akhirnya, teater modern Indonesia adalah kompleksitas. Membicarakan persoalan aktor, misalnya, mau tidak mau kita akan membicarakan teater sebagai sebuah disiplin. Termasuk masa lalunya.
Saya setuju dengan pendapat bahwa teater modern Indonesia masih memakai paradigma paternalistik. Munculnya kelompok-kelompok teater, berbiak dari teater-teater sebelumnya. Seperti layaknya sebuah keluarga, seorang anak yang sudah merasa dewasa dan ingin mandiri, tentu ada keinginan untuk memisahkan diri dari keluarga besarnya dan membentuk keluarganya sendiri. Maka keluarga-keluarga baru bermunculan. Itulah teater modern Indonesia. Budaya paternal yang dia cerap selama masa kanak-kanaknya itu tanpa sadar ikut terbawa ketika ia ingin berdiri sendiri. Terjadi pelembagaan terhadap budaya paternalistik.
Seorang aktor dalam kelompok terdahulunya akhirnya akan berkeinginan juga menjadi sutradara ketika dia keluar dan menciptakan kelompoknya sendiri. Keaktoran saja tidak cukup bagi seorang aktor. Sutradara adalah puncak pilihan.
Saya kira, inilah struktur berpikir yang kadung tertanam di benak—secara umum—para pekerja teater Indonesia. Dan kalau itu dianggap kesalahan, saya kira, itulah sebabnya yang berkembang kemudian adalah teater sutradara. Kita tidak pernah benar-benar lepas dari masa silam, atau bahkan tanpa masa silam seperti kata Arifin C. Noer almarhum. Kita masih terbelenggu dengan budaya paradigma lama yang paternal.
Pengertian antara teater sutradara dan teater aktor, bukanlah masalah penting. Yang harus kita tumbuhkan sekarang ini adalah sebuah teater yang benar-benar tanpa hubungan dengan para pendahulunya. Yang tidak membawa naluri tradisi paternalistik. Teater yang tidak peduli dengan masa lalunya sendiri. Teater yang berani memutus mata-rantai sejarah perkembangan sebelumnya. Tanpa masa silam yang sebenarnya.
Teater modern Indonesia kemudian lahir dari gagasan-gagasan dan kegelisahan sekumpulan orang yang meniatkan dirinya untuk melebur menjadi sebuah kelompok teater. Artinya: teater itu lahir bukan karena kegelisahan satu orang saja. Hal itu akan berpotensi ke arah teater sutradara seperti teater-teater Indonesia sebelumnya.
Niatan itu tentu saja harus didukung orang-orang dengan kemampuan dan kualitas yang memadai di bidangnya masing-masing. Baik itu pemain, sutradara, penulis naskah, bagian artistik, bahkan sampai di bidang manajerial. Semuanya dengan semangat dan visi yang sama. Tidak ada heirarki atas-bawah di dalamnya. Setiap individu mempunyai posisi yang sama pentingnya. Setiap orang berhak melemparkan gagasan untuk direspons dan didiskusikan bersama. Bagaimana individu yang memilih di bagian penulisan naskah kemudian serius mengerjakan tugasnya dari hasil diskusi itu. Bagian manajerial kemudian sibuk membuat surat-surat dan proposal pertunjukan. Para pemain giat mempersiapkan tubuhnya dalam latihan-latihan rutin. Bagian penyutradaraan memilih, siapa yang siap untuk menyutradarai gagasan itu. Dalam bahasanya Adi Wicaksono: bagian-bagian itu kemudian dilembagakan. Setiap lembaga di dalamnya hanya mengurusi apa yang menjadi bagiannya. Orang yang harus menyutradarai, tidak serta-merta juga menjadi pimpinan produksi. Atau seorang pemain yang juga merangkap mengurusi surat-surat dan proposal yang harus dibuat. Dengan begitu, setiap orang akan mampu lebih maksimal mengerjakan apa yang menjadi tanggung-jawabnya.
Dalam teater seperti itu, akan lebih banyak memunculkan warna dan corak pada tiap produksi kreatifnya, karena setiap sutradara di dalamnya, dengan seluruh kapasitasnya, masing-masing mempunyai gaya dan cara pengucapannya yang khas. Seorang pemain akan lebih menemukan gaya aktingnya dari setiap sutradara yang berbeda.
Maka tidak penting lagi dipertanyakan, teater sutradara atau teater aktor yang muncul, atau malah teater naskah, karena ternyata naskah yang tertulis lebih kuat dibanding aktor atau sutradaranya, misalkan. Semuanya telah selesai ketika itu didiskusikan dan digodok hingga menjadi sebuah ide bersama yang lebih matang dan jelas.
Dalam teater seperti itu, keberagaman bentuk lebih berkemungkinan untuk menemukan semangat dan hidupnya. Dengan sendirinya, hal itu akan lebih memperkaya perkembangan teater modern Indonesia yang sudah memilih untuk melupakan masa lalunya dan menciptakan sejarah dan tradisinya sendiri.

profil yayasan darut taqwa

Profil Yayasan Darut Taqwa

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 23 September 2008

Yayasan Darut Taqwa

Yayasan darut taqwa sengonagung merupakan pengembangan dari yayasan pondok pesantren darut taqwa yang berdiri pada tanggal 01 agustus tahun 1977 di desa Carat kecamatan Gempol kabupaten Pasuruan yang didirikan oleh : KH. Bahruddin Kalam.

  • Pada tahun 1985 kh. Sholeh bahrudin (putra pertama KH. Bahruddin Kalam) hijrah dan mendirikan pondok pesantren darut taqwa di desa sengonagung kec. Purwosari kab. Pasuruan.
  • Tahun 1986 pondok pesantren darut taqwa berubah nama menjadi pondok pesantren ngalah yang dilatar belakangi oleh sejarah perjuangan kh. Sholeh bahruddin di desa sengonagung kec. Purwosari pasuruan
  • Pada perkembangan selanjutnya pada tahun 1987, yayasan pondok pesantren darut taqwa (carat) mendirikan lembaga pendidikan mts. Darut taqwa 02 yang berlokasi di desa sengonagung sebagai bentuk kepedulian kh. Sholeh bahruddin terhadap pendidikan dan menampung siswa di daerah sekitar pondok pesantren ngalah.
  • Tahun 1989 mendirikan lembaga pendidikan ma. Darut taqwa.
  • Tahun 1990 mendirikan lembaga pendidikan mi darut taqwa.
  • Tahun 1995 mendirikan lembaga raudlotul athfal (ra) darut taqwa.
  • Tahun 1996 mendirikan perguruan tinggi islam sengonagung (stais) jurusan pendidikan agama islam
  • Tahun 1999 mendirikan lembaga pendidikan di bawah naungan dinas p dan k yaitu sma darut taqwa
  • Tahun 2002 bekerja sama dengan smkn 1 purwosari dalam bidang life skill yang bertujuan meningkatkan kualitas santri dalam bidang ketrampilan. Dan pada tahun 2003 smkn 1 purwosari bekerja sama dengan yayasan darut taqwa membuka smk kelas jauh pada pondok pesantren
  • Pada tahun yang sama yayasan mengembangkan sekolah tinggi agama islam sengonagung (stais) dengan 2 jurusan: pai dan pba, sekarang menjadi universitas yudharta pasuruan dengan 5 (lima) fakultas (fakultas teknik, pertanian, sosial & politik, psikologi, fai)
  • Tahun 2006 mendirikan smk darut taqwa dengan bidang keahlian tekhnik informatika dan mekanik otomotif

B. NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Yayasan ini bernama “YAYASAN DARUT TAQWA” berkedudukan di Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan dan dapat mendirikan cabang-cabangnya ditempat lain di dalam wilayah Republik Indonsia jika dianggap perlu oleh Pembina Yayasan.

C. AZAZ
Yayasan ini berasaskan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan asas kekeluargaan sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

D. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan Yayasan adalah membantu usaha Pemerintah Republik Indonesia dalam hal memajukan pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, serta mewujudkan keadilan sosial.

E. SRUKTUR KEPENGRUSAN YAYASAN PERIODE 2007 – 2012

PEMBINA 1. K.H. Moh. Sholeh Bahruddin.
2. H. Moh. Roeslan
PENGAWAS 1. H. Agus Muzakki
2. H. Agus Achmad Fadlan
3. Agus Achmad Saikhu
4. H. Agus M. Yusuf Wijaya, MM.
5. H. Agus Kholid Murtadlo, SE.
6. Agus Misbahuddin.
PENGURUS Ketua
Wakil Ketua I
Wakil Ketua II
Sekretaris
Wakil Sekretaris
Bendahara
Wakil Bendahara
: H. Sholihuddin.
: Drs. Saifulloh, M.Hi.
: Drs. H. Haris Yanuarno, MSA.AK.
: H. Sutadjianto.
: Ali Bisri, S.Ag.
: H. Purnomo.
: M. Sholihun, S.Pd.I.
BIDANG – BIDANG
a. Bidang Kependidiakan 1. M. Husni Mubarok, M.Pd.
2. M. Syafiuddin, S.Pd.I.
b. Bidang Ketenagaan 1. Lutfi, MM.
2. Mohammad Sueb, MM.
c. Administrasi 1. Farhan, S.Pd.I.
2. Nur Rohmad Nuzil.
3. May Agus Suwandono.
4. Hasan Saiful Rijal.
d. Sarana Prasarana 1. M. Khusairi, S.Pd.I.
2. Aminulloh Majid.
e. Informasi Komunikasi 1. Hambali, MM.
2. M. As’ad.
f. Pengembangan Usaha 1. M. Faidlus Syukri.
2. Amir Mahmud, S.Pd.I.
g. Kamtib 1. Rohimin, S.Pd.I.
2. M. Syafi’i, S.Pd.I.
3. Drs. Abd. Muhaimin.

G. PROGRAM – PROGRAM YAYASAN

  • Jangka Pendek
    – Pembinaan pengurus Yayasan dan Lembaga di bawah naungan Yayasan
    – Penyusunan Program Tahunan
    – Pengesahan rencana anggaran anggaran biaya sekolah (RAPBS) tahun
    2007
    – Penerimaan siswa dan mahasiswa baru tahun 2007/2008
    – Perekrutan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
  • Jangka Menengah
    – Pengadaan modul mengajar
    – Pemagaran gedung-gedung sekolah
    – Peningkatan kualitas sarana dan prasarana
    – Rekomendasi beasiswa bagi siswa dan guru
    – Pendirian Sekolah Tingkat lanjutan Pertama tahun 2008
  • Jangka Panjang
    – Pembangunan gedung-gedung bertingkat
    – Perluasan wilayah Yayasan Darut Taqwa
    – Pengadaan Boarding School
    – Pendirian SBI di Yayasan Darut Taqwa
    – Pengadaan perumahan guru dan dosen tetap Yayasan Darut Taqwa
    – Pengadaan pusat laboratorium Yayasan Darut Taqwa

organisasi dan latar belakang

Organisasi di MASDATA

Di MASDATA ada 9 organisasi,yaitu :

  1. MPK (Majelis Perwakilan Rakyat)
  2. OSIS (Organisasi siswa Intra Sekolah)
  3. ALIDWA (Sanggar Seni)
  4. KIR (Karya Ilmiah Remaja)
  5. PKS (Patroli Keamanan Sekolah)
  6. PMR (Palang Merah Remaja)
  7. LKD (Lembaga Kader Dakwah)
  8. PRAMUKA (Praja Muda Karana)
  9. PALA (Pecinta Alam Laskar Alam)

Kenapa pilih MASDATA?

Menurut sepengetahuan saya,di MASDATA itu adalah salah satu sekolah yang sangat baik untuk menuntut iilmu,karena disana tersedia fasilitas dan tenaga guru yang tidak diragukan lagi kemampuannya.Siswanya juga berprestasi,baik akademik ataupun nonakademik.Jadi jangan ragu lagi,don’t worry be don’t be smart in MASDATA.OK…!

Latar Belakang SMK

Latar Belakang

Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1997, terutama disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Data hasil penelitian UNDP tahun 2001 menunjukkan bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) Bangsa Indonesia menduduki rangking 106 dari 126 negara. Pada rangking tersebut posisi Indonesia jauh di bawah Negara-negara ASEAN yang merupakan pesaing terdekat. Oleh karena itu diperlukan komitmen yang kuat dalam mengembangkan SDM guna mendukung upaya pembangunan terutama pembangunan ekonomi dalam rangka menghadapi era globalisasi dan pasar bebas.

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Indonesia menghadapi masalah perluasan dan pemerataan pendidikan. Sehingga kebijakan pokok Departemen Pendidikan Nasional mengenai pembinaan pendidikan dasar dan menengah yang pertama adalah “peningkatan kesempatan memperoleh layanan pendidikan”. Sehubungan dengan kebijakan di atas, maka Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan memberikan beberapa alternative pendidikan kejuruan, salah satunya adalah Sekolah Menengah Kejuruan Kecil ( SMK Kecil).

Sekolah Menengah Kejuruan Kecil (SMK Kecil) merupakan bentuk layanan pendidikan menengah kejuruan dengan skala kecil dan nantinya akan tumbuh berkembang menjadi UPT tersendiri. Salah satu karakteristik SMK Kecil adalah adanya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraanya. Sebagai bentuk konkrit pemaduan Program Pusat dengan Program Daerah dalam pengembangan SMK, maka pada tanggal 3 februari 2004 Gubernur jawa Timur mencanangkan “Gerakan Pendirian SMK di Pesantren dan Pedesaan”.

Sebagai wujud nyata partisipasi dan kepedulian Yayasan Darut Taqwa Sngonagung Purwosari Pasuruan terhadap pengembangan SDM, maka pada tahun pelajaran 2003/2004 menyelenggarakan program Sekolah Menengah Kejuruan Kecil (SMK Kecil) bekerja sama dengan SMKN I Purwosari sebagai SMK Induk. Program ini didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Sebaga upaya pengembangan dan penyempurnaan penyelenggaraan SMK Kecil Darut Taqwa, maka perlu disusun proposal pendirian SMK Kecil Darut Taqwa yang di dalamnya memuat kondisi obyektif potensi yang ada dan rencana induk pengembangan SMK Kecil Darut Taqwa.

Latar Belakang

Latar Belakang

Pilar terpenting pembangunan Sumber daya manusia (SDM) adalah pendidikan. Semakin terdidik suatu masyarakat semakin tinggi potensi untuk memiliki SDM yang berkualitas. Selanjutnya, semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Kuatnya kaitan antara pendidikan dengan SDM dalam mengukur keberhasilan pembangunan SDM suatu negara diperlihatkan oleh United Nation Development Program (UNDP). Badan dunia ini telah menetapkan pendidikan masyarakat di suatu negara sebagai salah satu indikator penting untuk menentukan peringkat SDM suatu negara di antara negara-negara di dunia.

Menurut UNDP pada tahun 2001, dari 174 negara di dunia yang diurut dari peringkat 1 (satu) sebagai yang terbaik sampai peringkat 174 (seratus tujuh puluh empat) sebagai yang terburuk, Indonesia berada pada urutan ke-106. Peringkat Indonesia tersebut merupakan yang terendah di negara ASEAN. Padahal sumber daya alam negara kita jauh lebih kaya dari negara-negara ASEAN lainnya, tetapi karena tingkat pendidikan penduduk negara kita masih tertinggal, maka kualitas SDM-nya juga masih rendah. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa peningkatan kesejahteraan di negara kita masih sulit diwujudkan. Oleh karena itu diperlukan komitmen yang kuat dalam mengembangkan SDM guna mendukung upaya pembangunan terutama pembangunan ekonomi dalam rangka menghadapi era globalisasi dan pasar bebas.

Sebagai wujud nyata partisipasi dan kepedulian Yayasan Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan terhadap pengembangan SDM, maka sejak tahun 1989 mendirikan Madrasah Aliyah Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan. MA darut Taqwa meriah status DISAMAKAN, berdasarkan SK Bimbaga Departemen Agama Nomor: E. IV/PP.03.2/Kep/36.A/99 Tanggal 29 maret 1999, diperbarui dengan ……………………………….(no. sk akreditasi). MA. Darut Taqwa saat ini memiliki jumlah peserta didik sebanyal 669 siswa. Adapun jurusan pendidikan yang dijalankan adalah program jurusan Bahasa, IPA, IPS dan keagamaan (MAK).

Sejak tahun 2002 MA. Darut taqwa mengembangkan kurikulumnya dengan menyelenggarakan program pendidikan kecakapan hidup (life skill education). Program ini dilatarbelakangi oleh banyaknya lulusan MA. Darut Taqwa yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang Pendidikan Tinggi. Oleh karena itu siswa MA. Darut Taqwa perlu diberi bekal ketrampilan. Pelaksanaan program tersebut dilakukan secara ekstra kurikuler bekerjasama dengan SMKN I Purwosari. Pada permulaannya program pendidikan ditempatkan di SMKN I Purwosari, karena ketersediaan peralatan dan instruktur di SMKN I Purwosari yang memadai.

Hasil evaluasi pelaksanaan Program Pendidikan Kecakapan Hidup MA. Darut Taqwa menunjukkan bahwa Jarak antara MA Darut Taqwa dan SMKN I Purwosari merupakan kendala utama, mengingat kegiatan siswa yang begitu padat khususnya siswa MA. Darut Taqwa yang merupakan santri Pondok Pesantren Ngalah. Oleh karena itu secara bertahap MA. Darut Taqwa berupaya mengembangkan sarana dan prasarana yang dimiliki agar program pendidikan kecakapan hidup dapat dilaksanakan di lingkungan MA. Darut Taqwa.

Untuk meningkatkan program pendidikan kecakapan hidup, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. MA Darut Taqwa secara kontinyu mengembangakan sarana dan prasarana pendidikan kecakapan hidupnya secara mandiri. Selain itu, untuk mempercepat pengadaan sarana tersebut, maka perlu disusun proposal pengadaan peralatan pendidikan kecakapan hidup (life skill education).

Identitas Sekolah

1. IDENTITAS SEKOLAH

a. Nama Sekolah : MA. DARUT TAQWA

b. Status : Terakreditasi “A” (Unggul)

c. No. Telp. : 0343 611717

d. Alamat : Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Pos. 67162

e. Desa/Kecamatan : Sengonagung/Purwosari

f. Tahun Berdiri : 1989

g. Program yang tersedia : BHS, IPA, IPS dan PAI

h. Waktu belajar : Pagi: 07.00 – 12.50 Wib

i. Kabupaten : Pasuruan

j. Propinsi : Jawa Timur

2. IDENTITAS KEPALA SEKOLAH

Nama Kepala Sekolah : Drs. SAIFULLOH, MHI.

Pendidikan : S2

Jurusan : Syari’ah (Hukum Islam)

Alamat : Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Pos. 67162

HP : 081334647105

3. LATAR BELAKANG BERDIRINYA MADRASAH

n Cita-Cita Pendiri Yayasan Darut Taqwa

n Kondisi Pedesaan yang sangat membutuhkan Pendidikan

n Permintaan Masyarakat Sekitar

n Banyak Lulusan SLTP tidak bisa melanjutkan ke tingkat lanjutan atas

n Belum ada sekolah Tingkat Atas khususnya Madrasah

4. VISI DAN MISI SEKOLAH

1. Visi : UNGGUL DALAM IMTAQ dan IPTEK, BERWAWASAN KEBANGSAAN, INOVATIF, BERAKHLAQUL KARIMAH

2. Indikator :

a. Unggul dalam Imtaq

n Meningkatkan amal ibadah wajib dengan tertib

n Selalu meningkatkan penghayatan ajaran agama Islam serta menjalankannya

b. Unggul dalam Iptek

n Selalu mengikuti perkembangan Iptek dalam KBM.

n Berfikir rasional, obyektif dan ilmiah

n Meningkatkan kemampuan individu dengan Life Skill.

c. Berwawasan kebangsaan

n Menghargai perbedaan kelompok dan suku

n Melatih dan membiasakan kehidupan yang pluralistik

d. Inovatif

Selalu berorientasi masa depan lebih baik, tanpa melupakan historis masa lalu

Selalu mengadakan uji coba, perubahan, dan penataan ulang agar lebih baik

Senang terhadap perubahan dan pembaharuan yang lebih baik

e. Berakhlaqul Karimah

n Berbudi luhur terhadap orang tua

n Berbudi luhur terhadap semua guru

n Berbudi terhadap sesame teman

n Berbudi luhur terhadap masyarakat

3. Misi :

n Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan ajaran Agama Islam

n Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif

n Meningkatkan kualitas akademik

n Meningkatkan kualitas kelembagaan dengan pengembangan sarana dan prasarana

n Menerapkan Manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga Madrasah

n Meningkatkan kreatifitas warga Madrasah

materi teater

alidwa adalah organisasi teater  yang ada di ma smk darut taqwa

teater adalah

ARTI TEATER

  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

AKTING YANG BAIK

Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.

Dialog yang baik ialah dialog yang :

  1. terdengar (volume baik)
  2. jelas (artikulasi baik)
  3. dimengerti (lafal benar)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Gerak yang balk ialah gerak yang :

  1. terlihat (blocking baik)
  2. jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
  3. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  4. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)

Penjelasan :

· Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh

· Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.

· Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti “tidak takut” harus diucapkan berani bukan ber‑ani.

· Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah

· Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi.

Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut :

· Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan.

· Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.

Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:

· Bagian kanan lebih berat daripada kiri

· Bagian depan lebih berat daripada belakang

· Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah

· Yang lebar lebih berat daripada yang sempit

· Yang terang lebih berat daripada yang gelap

· Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi

Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung

1. Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting

2. Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.

3. Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.

Selanjutnya akan kita bahas secara rinci tentang dasar latihan teater.

MEDITASI dan KONSENTRASI

MEDITASI

Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.

Tujuan Meditasi :

1. Mengosongkan pikiran.

Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.

2. Meditasi sebagai jembatan.

Disini alam latihan kita sebut sebagai alam “semu”, karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.

Cara meditasi :

  1. Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
  2. Atur pernafasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
  3. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.

Catatan :

Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.

KONSENTRASI

Konsentrasi secara umum berarti “pemusatan”. Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.

Cara konsentrasi :

  1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
  2. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.

    VOKAL dan PERNAFASAN

    PERNAFASAN

    Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.

    Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan :

    Ø Pernafasan dada

    Pada pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.

    Di kalangan orang‑orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.

    Ø Pernafasan perut

    Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,

    Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.

    Ø Pernafasan lengkap

    Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).

    Pernafasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.

    Ø Pernafasan diafragma

    Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.

    Menurut perkembangan akhir‑akhir ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.

    Latihan‑latihan pemapasan :

    · Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.

    · Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.

    · Cara berikutnya adalah menarik napas dalam‑dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara‑cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.

    Catatan : Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.

    VOCAL

    Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vocal yang baik pula. “Baik” di sini diartikan sebagai :

    · Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).

    · Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),

    · Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.

    · Tidak monoton.

    Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan‑latihan vocal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vocal, antara lain :

    · Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara “wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.

    · Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam “mmm…mmm…” (suara keluar lewat hidung).

    · Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,”ssss…….”

    · Hirup udara banyak‑banyak, kemudian keluarkan vokal “aaaaa…….” sampai batas nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.

    · Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan nafas)

    · Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.

    · Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o”, “ai‑ao‑au‑ae‑”, “oa‑oi‑oe‑ou”, “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑oui‑oua‑uei‑uia‑……” dan sebagainya.

    · Berteriaklah sekuat‑kuatnya sampai ke tingkat histeris.

    · Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung‑gulung, berlari, berputar‑putar dan berbagai variasi lainnnya.

    Catatan :

    Apabila suara kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat‑alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat‑alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.

    Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.

    ARTIKULASI

    Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan.

    Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :

    Ø Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.

    Ø Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.

    Misalnya:

    o Kehormatan menjadi kormatan

    o Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.

    Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.

    Ø Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

    Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan

    · Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.

    · Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb

    · Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.

    GETIKULASI

    Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.

    Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang‑kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata “Pergi !!!!” dengan kalimat “Angkat kaki dari sini !!!”. Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk “Lalu ?” , “Kenapa ?” atau “Tidak !” dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.

    Getikulasi harus dilakukan sebab kata‑kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: “Tuan kelewatan. Pergi!”. Antara “Tuan kelewatan” dan “Pergi” harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.

    Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya “Tuan kelewatan”……. (mendapat tekanan), “Pergi….” (mendapat tekanan).

    INTONASI

    Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :

  3. Tekanan Dinamik (keras‑lemah)

Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat “Saya membeli pensil ini” Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.

SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)

Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)

Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)

  1. Tekanan.Nada (tinggi)

Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.

  1. Tekanan Tempo

Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih berganti.

WARNA SUARA

Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki‑laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.

Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah‑rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.

Selain mengenai dasar‑dasar vocal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar‑dasar vocal seperti di atas.

(Si Dul masuk tergopoh‑gopoh)

Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.

Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?

Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).

Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.

Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !

(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?

Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.

GERAK

OLAH TUBUH

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.

Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot‑otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian‑bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.

Pelaksanaan olah tubuh :

  1. Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
  2. Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.

Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.

Putar kepala pelan‑pelan dan rasakan lekukan‑lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali‑kali. Ingat, pelan‑pelan dan rasakan !

Putar bahu ke arah depan berkali‑kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.

Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.

Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali‑kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama‑sama.

Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.

Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.

Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari‑lari di tempat dan meloncat‑loncat.

Macam‑Macam Gerak :

Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam‑macam gerak Latihan‑latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.

Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu

1. Gerak teaterikal

Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.

2. Gerak non teaterikal

Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari‑hari.

Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam‑macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.

  1. Gerak Halus

Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.

  1. Gerak Kasar

Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu :

    1. Business, adalah gerak‑gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :

sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak‑gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.

sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.

    1. Gestures, adalah gerak‑gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
    2. Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung‑gulung, melompat, dsb.
    3. Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.

Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.

Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :

· Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.

· Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.

· Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.

Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.

Latihan-latihan gerak yang lain :

  1. Latihan cermin.

dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.

  1. Latihan gerak dan tatap mata.

sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.

  1. Latihan melenturkan tubuh.

seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.

  1. Latihan gerak bersama.

suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.

  1. Latihan gerak mengalir.

suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.

GERAK DAN VOCAL

Setelah kita berlatih tentang vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vocal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.

Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vocal.

PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER

Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.

Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :

  1. Mata

Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.

  1. Telinga

¨ Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.

¨ Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.

  1. Hidung

¨ Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.

¨ Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.

  1. Kulit

¨ Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.

¨ Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.

  1. Lidah

¨ Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.

¨

Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!